Tentang Cinta

January 27th, 2007 by goen

Meniti
Cinta, Menelisik Kembali Hidup Kita

 

Judul Buku  :
Meniti Bianglala [The Five People You Meet in Heaven]

Penulis
 : Mitch Albom

Penerbit
 : Gramedia Pustaka Utama

Tahun
 : April 2005

Tebal
 : 202 halaman

 

 

“Orang-orang
asing adalah keluarga yang masih belum kaukenal…. Tidak ada kehidupan yang
sia-sia. Satu-satunya waktu yang sia-sia adalah ketika kita menghabiskan waktu
dengan mengira bahwa kita hanya sendirian.”

 

Ini
kisah seorang lelaki bernama Eddie—dan bisa terjadi pada siapa pun, juga kita. Ia adalah seorang pekerja taman bermain yang
mati ketika menyelamatkan hidup seorang bocah perempuan dalam satu kecelakaan
di salah satu arena permainan yang menjadi tanggung jawab Eddie. Dan kisah ini mengalir
melalui dua kutub yang saling berjalinan, antara dunia nyata dan dunia setelah
mati. Novel ini memberikan suatu kemungkinan dari pertanyaan tentang alam
kematian macam apa yang sesungguhnya dihadapi oleh mereka yang telah mati, dan—lebih
dari itu—dunia nyata macam apa yang dijalani oleh masing-masing dari kita.
Titik tolaknya adalah, seberapa jauh kita bisa memahaminya, alam setelah mati
dan dunia hidup yang nyata ini.

 Untuk yang sudah membaca karya Mitch
Albom sebelumnya, Selasa Bersama Morrie [Tuesdays with Morrie],
buku ini akan memberikan pengalaman membaca yang jauh lebih menakjubkan, sebuah
pelajaran tentang makna hidup. Lepas dari urusan penerjemahan bahasa
Indonesianya—rasanya, bisa dibikin dengan bahasa yang lebih halus lagi, yang
lebih menyentuh, bukan sekadar tekstual, Meniti Bianglala dengan cukup
jernih dan hati-hati membongkar bagian-bagian dari kehidupan kita: tentang
hubungan anak dan orang tua, tentang pekerjaan, tentang pilihan dan nasib,
tentang cinta, tentang pahit dan manisnya kehidupan.

 Keseluruhan novel ini sangat layak
untuk diambil sebagai bahan reramuan mengolah hidup dan kehidupan. Tentang
kerja dan profesi, ada catatan penting tentang harga dari sebuah profesi,
terutama pada aspek nilai penting pekerjaan kita bagi orang lain. Apakah kita
cukup sekadar melihat pekerjaan dari besarnya upah atau status?—tidakkah akan
sangat menyenangkan sekiranya kita bisa memiliki profesi yang bisa memberi
bahagia untuk orang lain, untuk memberi makna bagi orang lain? Tentang nasib,
adakah kita cukup mengerti apa dan bagaimana kita di dalam keseluruhannya?
Tidakkah kita hanya sekadar tahu dari sudut pandang dan pengetahuan kita
semata, dan bukan dalam jaringan hidup yang saling mempengaruhi dan kait-mengkait?
Soal pilihan-pilihan, apakah kita benar-benar memilih dengan benar, untuk
kemudian menyesali pilihan itu—atau kita tidak memilih dan kemudian
menyesalinya. kenapa kita tidak membiarkan semuanya berjalan apapun adanya dan
kita menjalaninya dengan bahagia?

 Adakah yang lebih berharga melebihi
cinta? Novel ini secara keseluruhan adalah kisah tentang cinta, bersama pahit
dan getirnya, manis dan indahnya.
Cinta antara lelaki dan perempuan, anak dan orang tua,
kawan dan sahabat, lingkungan dan kenangan, dan lain sebagainya.
Tentu saja, bagian terindah dari kisah cinta itu
adalah perjalanan cinta sepasang anak manusia. Orang sering mengatakan mereka
“menemukan” cinta, seakan-akan cinta sejenis benda yang tersembunyi di balik
bongkahan-bongkahan batu.
Tapi cinta mempunyai berbagai bentuk, dan tidak pernah
sama bagi setiap pria atau wanita. Yang ditemukan orang sebenarnya cinta tertentu.
Dan Eddie menemukan cinta tertentu dalam diri Marguerite, cinta yang didasari
rasa syukur, cinta yang mendalam walaupun tidak menggebu-gebu, cinta yang ia
tahu lebih dari segalanya, tidak bisa digantikan oleh apa pun. Alangkah
bahagianya, sekiranya kita adalah Eddie, ketika Marguerite, istrinya, dengan lembut berkata, “Aku tahu… bahwa kau
sangat mencintaiku.”

Buku ini terutama layak dibaca
oleh para dewasa dan mereka yang ingin menjalani hidup dengan lebih dewasa,
lebih arif dan bijaksana. Layak juga untuk orang tua yang hendak menelaah
kembali hubungan mereka dengan anak-anaknya, atau calon anak-anaknya, dan untuk
anak yang ingin mengupas kembali hubungan mereka dengan orang tuanya. 
Layak
juga buat mereka yang tengah mencari dan/atau kehilangan cinta….

Pengamen Agung

January 24th, 2007 by goen


Bisa jadi di muka bumi ini hanya
di Yogyakarta ada seorang seniman jalanan yang memiliki gelar “Pengamen Agung”.
Sujud Sutrisno nama seniman jalanan itu, Sujud Kendang panggilan akrabnya,
sesuai dengan alat musik yang digunakannya dalam mengamen. Meski gelar tersebut
diberikan “hanya” oleh sesama seniman, atau komunitas seniman tertentu, rasanya
spirit yang ada di balik penghormatan tersebut dapat dirasakan oleh orang
ramai: Bahwa dunia kesenian tidak mengenal sekat dan batas media, tidak
bergantung pada standar kualitas tunggal tertentu, dan terutama tidak harus
berada dalam arus utama seni sebagai produk industri.

 Apakah
yang membuat Sujud Sutrisno, seorang seniman jalanan, layak dan perlu
diapresiasi sedemikian tinggi? Pertanyaan ini rasanya layak kita ungkap untuk
melihat kembali keberadaan para seniman jalanan di kota kita tercinta ini.
Seperti yang kita tahu, pengamen dan seniman jalanan dengan mudah dapat kita
temukan di berbagai bagian kota, mulai dari perempatan jalan sampai trotoar
pertokoan, baik di halte-halte bis kota maupun di alun-alun, di muka warung
lesehan dan pintu pagar rumah kita, bahkan di panggung-panggung kafe kecil atau
pun acara kesenian tertentu. Spirit kesenian jalanan ini bahkan merambah ke
panggung politik, antara lain dengan lagu-lagu demonstrasi yang menjadi
penyemangat para mahasiswa yang melawan pemerintah. Dengan kalimat lain, lagu-lagu
jalanan juga memiliki peran dalam menumbangkan rezim orde baru di masa
reformasi, terlepas dari kegagalan reformasi mengangkat kehidupan masyarakat
Indonesia menjadi lebih baik, lebih-lebih bagi kehidupan para seniman jalanan
itu sendiri.

 Di
sisi yang lain, keberadaan seniman jalanan ini juga tidak selalu diterima
secara positif oleh masyarakat. Mengamen bisa jadi dipandang sebagai kamuflase
dari para penjahat jalanan, tukang mabuk dan pembuat onar yang mengganggu ketertiban
umum. Para pengamen itu hanya dilihat dari perspektif minus, sebagai pembawa
sial transaksi jual-beli di kios atau toko kita, perusak suasana nyaman saat
kita makan di warung lesehan, penambah ruwet perempatan jalan yang macet oleh
penuhnya kendaraan, atau pengganggu tidur siang kita. Profesi mengamen juga
ditanggapi secara sinis sebagai lahan pendapatan bagi para pemuda pemalas dan
anak-anak nakal. Mengamen kemudian hanya berbatas tipis dengan mengemis, jika
yang satu mengail recehan atas nama rasa iba dan kasihan maka yang lainnya bersenjata
ancaman dan pemaksaan.

 Dalam
pandangan yang lebih kritis, seniman jalanan sesungguhnya adalah salah satu
cermin dari peri kehidupan bangsa ini, krisis dan persoalan sosial yang layak
untuk diangkat dan dipecahkan bersama. Anak-anak jalanan yang mengamen di perempatan
jalan bisa jadi adalah korban dari “komersialisasi anak-anak” oleh orang tua
mereka atau bahkan korban dari organisasi kelompok kriminal yang memiliki
jaringan antarkota, sebagaimana yang terungkap dalam beberapa kasus-kasus
penculikan anak. Pemuda-pemuda yang mengamen itu tidak sedikit yang berlatar
pendidikan tinggi, yang memilih jadi pengamen karena terpaksa sebab tidak ada
lapangan kerja lain yang bisa mereka dapatkan. Mengamen juga menjadi salah satu
solusi bagi para mahasiswa rantau yang telat kiriman bulanannya atau bahkan
sama sekali tidak ada dukungan dana bagi pendidikan mereka sebab kemiskinan
yang mendera orang tua mereka. Tidak sedikit juga dari mereka yang memilih
jalan hidup di dunia kesenian yang menjadikan jalanan sebagai ajang melatih dan
menempa diri. Menjadi seniman jalanan boleh jadi juga menjadi bagian dari
perlawanan mereka terhadap arus budaya yang kian mapan dan memaksakan
keseragaman, bahwa orang sukses adalah mereka yang memiliki pekerjaan tetap,
berseragam dan berdasi, bergaji besar, sementara korupsi dan kolusi meruyak tak
tertanggulangi dan keadilan kian menjauh tinggal jadi harapan.

 Apapun
adanya, seni dan seniman jalanan adalah bagian dari kehidupan kota ini. Memberi
maaf untuk sebagian pengamen yang sekadar “genjrang-genjreng” dan bersuara
sumbang, juga untuk ketidaksopanan menadahkan tangan dekil dan tidak
mempergunakan sekadar wadah plastik bekas, atau untuk unjuk kemampuan yang
tidak kenal waktu dan suasana, rasanya akan membuat hidup kita lebih lapang dan
tidak semakin sumpek oleh zaman yang kian memusingkan. Jika suatu ketika kita
pergi ke kota-kota lain, yang pengamennya lebih nggegirisi dan
menakutkan, atau ketika kita menemu suasana yang anyep, dingin dan beku
tanpa suara jalanan itu, ketika itulah kita akan merindukan Yogyakarta yang
diramaikan oleh para pengamen jalanan. Maka pada suatu hari kita akan hanyut
dalam sebuah nostalgia, sebagaimana terungkap dalam lagu ciptaan Katon
Bagaskara tentang kota kita tercinta ini, “Musisi jalanan mulai beraksi,
seiring laraku kehilanganmu….”

SERAT CENTHINI

July 3rd, 2005 by goen

Serat Centhini:
Kekayaan Nusantara, Pelajaran dari Mancanegara

“Allah menutup tangan atau membukanya bagi yang Ia kehendaki. Takdir tidak dapat ditebak. Terkadang di awalnya ulung dan di akhirnya hina, terkadang semula kasar kemudian meningkat berjiwa mulia.”

Serat Centhini adalah karya sastra besar dari khazanah kesusastraan Jawa. Kitab ini merupakan karya kolektif, gubahan bersama di bawah pimpinan Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Anom Amengkunagara III, Putra Mahkota dari Sunan Pakubuwana IV yang kemudian naik tahta bergelar Sunan Pakubuwana V, dengan para pujangga Keraton Surakarta: Raden Ngabei Ranggasutrasna, Raden Ngabei Yasadipura II, dan Raden Ngabei Sastradipura, dibantu oleh beberapa orang lain: Kanjeng Pangulu Tapsiranom, Pangeran Jungut Mandurareja, Kiai Kasan Besari, dan Kiai Muhamad Minhad. Sebenarnya, oleh penciptanya karya ini diberi judul Suluk Tambangraras atau Suluk Tambangraras-Amongraga. Tambangraras adalah nama pelaku utama perempuan dalam karya ini sebagai pasangan dari nama tokoh utama lelaki yang bernama Amongraga, sedangkan Centhini adalah nama gadis kecil abdi Tambangraras. Sebagai abdi, Centhini senantiasa bersiap melayani dan berada di dekat Tambangraras, termasuk ketika Amongraga memberi wejangan mengenai syariat, tarikat, hakikat, dan makrifat di awal perkawinan mereka. Ketekunan dan kepolosan gadis kecil ini sebagai pendengar berbagai ajaran kehidupan manusia sebagaimana yang termuat dalam kitab itulah yang bisa jadi membuat masyarakat terkesan dan terbawa dalam penamaan judul kitab ini dengan namanya: “Centhini” (Ngabei Ranggasutrasna, dkk., Centhini: Tambangraras-Amongraga, Jakarta: Balai Pustaka, 1991).

Serat Centhini mulai ditulis pada tahun 1742 Jawa atau 1814 Masehi dengan tujuan untuk menghimpun berbagai pengetahuan Jawa secara lengkap dan menyeluruh. Dengan kata lain, buku ini diandaikan akan menjadi “Induk Pengetahuan Jawa”. Dengan jumlah buku sebanyak 12 jilid, kitab ini memang berisi beraneka ragam pengetahuan, mulai soal agama, kebatinan, perumahan, pertanian, kesenian, kesusastraan, primbon, reramuan jamu dan jampi-jampi, masakan dan makanan, adat-istiadat, sejarah, dan lain sebagainya. Keseluruhannya disajikan dengan jalinan kisah perjalanan putra-putri Giri: Jayengresmi (yang kemudian disebut sebagai Amongraga), Jayengraga, dan Putri Rancangkapti, yang terpaksa melarikan diri dari Giri yang diserang dan ditaklukkan oleh Mataram.
Serat Centhini aslinya lebih dari 3.500 halaman folio tulisan tangan, terdiri atas 12 jilid. Transliterasi latin yang diterbitkan oleh Penerbit UP Indonesia Yogyakarta, yang telah menerbitkan transliterasi latin dan telaah-telaah Serat Centhini semenjak tahun 1975, yang kemudian diteruskan oleh Yayasan Centhini, seluruhnya berjumlah sekitar 5.000 halaman (Kamajaya, Serat Centhini Latin 1-12, Yogyakarta: Yayasan Centhini, 1985-1991). Sementara itu, saduran dalam bahasa Indonesia yang pernah dilakukan, oleh Tim Penyadur dari Fakultas Sastra Universitas Gadjah Mada, baru dapat menyelesaikan 3 jilid pertama: Saduran jilid 1 terdiri 318 halaman, jilid 2 sejumlah 310 halaman, dan jilid 3 sebanyak 317 halaman jadi (Ngabei Ranggasutrasna, dkk., Centhini: Tambangraras-Amongraga, Jakarta: Balai Pustaka, 1991, 1992, 1994).

Sebagaimana karya-karya klasik lainya, Serat Centhini ini juga terdapat beberapa versi, atau menurut Karkono Kamajaya: “turunan”—yang memunculkan perbedaan dan kesalahan dalam penyalinan dan bukan perbedaan versi (Tardjan Hadidjaja dan Kamaja, Serat Centhini (Ensiklopedi Kebudayaan Jawa), Yogyakarta: U.P. Indonesia, 1979) . Perbedaan atau perubahan ini antara lain disebabkan sistem penggandaan yang tidak menggunakan mesin tetapi dengan tulisan tangan. Dengan bentuk huruf Jawa yang banyak kemiripan satu dengan yang lain, kurang teliti dalam penyalinan, kurang fahamnya si penyalin dengan istilah-istilah lampau, dan tafsir pribadi dari si penyalin, perubahan dan perbedaan antara sumber yang disalin dan salinan menjadi sangat mungkin. Hal ini dapat berlanjut pada salinan-salinan berikutnya, yang membuat perubahan dan perbedaan semakin besar. Sementara itu, transliterasi dan penerjemahan dari huruf dan bahasa aslinya pun dapat memunculkan beraneka tafsir. Hal ini disebabkan terutama karena gubahan aslinya berbentuk tembang atau puisi yang memiliki sifat multitafsir.

Sebagai karya besar, Serat Centhini bisa dikatakan menjadi salah satu kitab yang paling tersembunyi di antara berbagai kitab klasik lainnya. Mungkin karena politik kekuasaan dari keraton, karena kitab ini sesungguhnya berbeda dengan lazimnya kitab-kitab klasik lain. Serat Centhini tidak berisi babad atau cerita tentang kejayaan keraton, tetapi justru kisah pengembaraan kaum pembangkang musuh-musuh keraton. Bisa jadi, ini terutama disebabkan oleh isinya yang secara gamblang mengungkapkan berbagai tabu seksualitas, yang boleh dikatakan terlalu vulgar, mulai dari soal olah persetubuhan, reramuan dan jampi perkelaminan, homoseksualitas, sampai sodomi.

Elizabet D. Inandiak, seorang mantan wartawan berkebangsaan Prancis yang datang pertama kali ke Indonesia tahun 1988, merasa mendapat panggilan yang kuat begitu pertama kali mendengar dan membaca hal ihwal Serat Centhini. Ia seakan menemukan segala sisi kehidupan, bukan hanya yang dialaminya sendiri, tertutur dalam kitab ini. Serat Centhini baginya adalah sebuah karya ajaib, yang mampu mengingatkannya pada alun-gelombang perasaan romantis, spiritualisme, sekaligus kemesuman para sastrawan tersoho Prancis: Rabelais, Baudelaire, Victor Hugo, Jean Genet, dan Diderot (Tempo, 10 April 2005). Itulah yang membuat ia dengan penuh minat dan kesabaran menpelajari Serat Centhini, mencari berbagai rujukan, dan merunut sumber-sumber lisan di berbagai wilayah di Pulau Jawa. Dengan dibantu oleh Sunaryati Sutanto, murid dari Romo Zoetmulder, seorang ahli Jawa Kuno, Inandiak memamah 12 jilid Serat Centhini aksara Jawa yang ditulis tangan. Ia juga merujuk disertasi Mohammed Rasjidi, Menteri Agama di era Soekarno, yang menulis tesis doktor di Universitas Sorbonne, berjudul Considerations Critiques du Livre de Centhini, Pertimbangan Kritis tentang Serat Centhini. Rujukan lisan ia dapatkan dari para dalang, juru kunci, seniman, petani, ulama, dan orang-orang yang mengenal Serat Centhini di berbagai penjuru Pulau Jawa, antara lain Mbah Maridjan, Juru Kunci Gunung Merapi, Mustofa Bisri, dan Abdurrahman Wahid.

Dari mempelajari teks-teks dalam Serat Centhini, dari menelaah pandangan orang-orang tentang kitab kolosal dan kontroversial ini, dari pergulatan dirinya, yang dalam penerimaannya bahkan bersifat metafisis, Inandiak menghasilkan sebuah buku berbahasa Prancis: Les Chants de l’ile a dormir debout – le Livre de Centhini. Buku yang dianugerahi gelar buku Asia terbaik yang ditulis dalam bahasa Prancis sepanjang tahun 2004 ini bukanlah terjemahan, apalagi utuh, tetapi sebuah adaptasi atau saduran. Pun demikian, buku yang ditulis dengan penuh kesungguhan ini memang sangat layak untuk dibaca oleh bangsa Indonesia, pemilik sah sang kitab yang barangkali tidak lagi mengenalinya. Syukurlah, Inandiak tidak melupakan Indonesia, dengan tekad dan kesungguhan ia menerjemahkan buku bahasa Prancis tersebut ke dalam bahasa Indonesia, dibantu oleh Laddy Lesmana, dan kini telah terbit dua seri nukilannya, yakni Empat Puluh Malam dan Satunya Hujan dan Minggatnya Cebolang, keduanya diterbitkan oleh Galang Press, Yogyakarta.

Empat Puluh Malam dan Satunya Hujan, terbit pada Agustus 2004, sejumlah 181 halaman, dimulai dengan prolog kisah penciptaan atau penulisan Suluk Tambangraras yang kemudian dikenal sebagai Serat Centhini. Buku ini berpokok pada kisah pernikahan Amongraga dan Tambangraras, dengan memaparkan kisah empat puluh malam selepas hari perkawinan yang diisi dengan wejangan Amongraga kepada Tambangraras. Di atas ranjang, Amongraga dan Tambangraras saling berhadapan, bertelanjang bulat namun tanpa bersentuhan apalagi bersanggama. Amongraga mengajarkan kepada Tambangraras hakikat cinta, hubungan Tuhan dan manusia, dan segal hal ihwal syariat, tarikat, hakikat, dan makrifat alam semesta.

Setelah jilid pertama Empat Puluh Malam dan Satunya Hujan, sebagai prasaji, Minggatnya Cebolang adalah jilid kedua, sebagai penghiburan sebelum selesainya terjemahan utuh Serat Centhini versi Prancis. Dalam buku asli Serat Centhini, petualangan Cebolang meliputi sekitar seperempat dari keseluruhan naskah, 772 pupuh atau tembang, sedang dalam versi Prancis, Cebolang mengisi 34 dari 152 tembang.

Buku Minggatnya Cebolang, terbit pada April 2005, sejumlah 207 halaman, menampilkan tembang ke-24 sampai ke-59, memaparkan episode kepergian Cebolang hingga kepulangannya. Cebolang adalah putra Syekh Akhadiyat, seorang pemuka Sokayasa, tempat suaka pertama Jayengraga dan Rancangkapti yang terpisah dari kakak mereka, Jayengresmi atau Amongraga, seusai Giri ditaklukkan Mataram. Cebolang minggat dari rumah kedua orang tuanya dengan ditemani empat kawan sepetualangan, Nurwitri, Saloka, Kartipala, dan Palakarti, yang kesemuanya adalah buaya darat kelas berat. Episode kisah Cebolang merupakan salah satu episode paling kontroversial dari Serat Centhini, yang dikisahkan bahwa sedemikian jalangnya tokoh ini, tiga pujangga penyusun Serat Centhini jadi terganggu dan tidak dapat menuliskannya sehingga mereka menyerahkan penulisannya kepada Putra Mahkota sendiri.
Pada Serat Centhini asli, episode ini memaparkan berbagai tata dan olah asmara dan seksualitas, mulai dari perkelaminan normal hingga yang mokal-mokal, dari jejampi dan reramuan sampai pembahasan dan perdebatan filosofis. Minggatnya Cebolang lebih banyak menggali kisah dan hal ihwal perkelaminan ini sebagai eksplorasi tematik dan paparan pengetahuan, antara lain “fakta” bahwa homoseksualitas dan kebanalan persetubuhan juga telah hidup nun di masa itu. Pun demikian, laiknya karya-karya klasik lainnya, ada banyak panorama ajaran luhur dan spiritualitas yang tak lekang oleh zaman, dalam episode Minggatnya Cebolang ini misalnya terdapat dalam kisah pencarian jati diri melalui kisah pewayangan pertemuan Werkudara dengan Dewa Ruci.

Berkaitan dengan segenap kontroversi dan kontradiksi Serat Centhini, satu bagian dari Minggatnya Cebolang menyatakan: “Allah yang memabukkan manusia dengan kisah-kisah yang membuat mereka hilang dalam kisah itu dan lupa kepada Si Perawi, Sang Pencerita, yakni Allah itu sendiri. Mereka tersasar pada diri mereka sendiri, yang dengan demikian akan segera mengingat Allah hanya dengan menemukan satu kata saja di dalam kisah itu.” Ini bisa jadi adalah kunci untuk memahami Serat Centhini, dengan berbagai hal yang menakjubkan sekaligus gasang itu, sehingga para pembaca tidak terjebak dalam pokok-pokok soal yang vulgar dan pornografis.

Akhirnya, Empat Puluh Malam dan Satunya Hujan dan Minggatnya Cebolang layak dipandang telah berhasil melewati tataran yang sempat dinujumkan dalam Serat Centhini: kenikmatan, kalau tanpa muatan, hanya akan jatuh ke lumpur nista. Kedua buku tersebut membebaskan dirinya dari belenggu seks dan seksualitas, yang bahkan bisa jadi merupakan salah satu daya tarik utama Serat Centhini bagi kaum awam dan masyarakat umum.

Serat Centhini, sebagaimana karya-karya besar dari budaya daerah di seluruh Indonesia telah lama terancam kepunahan. Kepunahan ini disebabkan oleh banyak hal, mulai dari huruf kuno yang telah lama mati, bahasa lama yang tidak digunakan lagi, juga karena bentuk dan gaya karya sastra lama yang memiliki standar estetika tersendiri. Dengan minat dan kesungguhan yang luar biasa besar, Elizabeth D. Inandiak telah menghasilkan karya unggul yang menangkap sari-sari karya besar Serat Centhini. Pun demikian, 2 buku kecil yang telah terbit dalam bahasa Indonesia, dan seri-seri berikutnya dari seri lengkap Serat Centhini versi Prancis lengkap, belumlah apa-apa dibandingkan dengan kekayaan yang terkandung dalam kitab Serat Centhini. Ada teramat banyak kisah dan pengetahuan dan hal ihwal Jawa yang terdapat dalam Serat Centhini yang belum terungkapkan, misalnya: paparan teknis yang detil dan njlimet—ensiklopedik— tentang formulasi jamu, perhitungan penanggalan, teknik arsitektur bangunan, sistem pertanian, dongeng dan sejarah, berlarat-larat mantra dan puja, ritual dan peribadatan, juga pengenalan anatomi manusia dan binatang.

Elizabeth D. Inandiak telah memilih mencecap dan menyerap Serat Centhini dalam bagian yang dikehendakinya, atau yang dikehendaki oleh Sang Kitab. Dan ia berhak untuk mendapatkan salut atas keteguhan dan keberaniannya sehingga kita bisa memamah saduran sastrawi yang indah dari Serat Centhini ini. Segenap yang kurang dan belum memuaskan kita, termasuk editing dan penyuntingan yang morat-marit dari buku ini, adalah menjadi tugas kita untuk memperbaiki dan mengisinya. Terakhir, untuk yang kesekian kalinya kita diajari oleh mereka yang datang nun dari negeri jauh untuk menghargai dan melestarikan bahkan menghidupkan kembali kekayaan peradaban nenek moyang kita, sebuah upaya yang tidak sekadar merekonstruksi bentuk fisik tetapi juga penggalian nilai-nilai untuk memperkaya pengetahuan dan pencerahan akal budi dan nurani manusia.

AADC VERSI SHAKESPEARE

July 3rd, 2005 by goen

Ada Apa dengan Shakespeare?

Judul buku: Shakespeare in Lie

Penulis: Tria Ayu K.

Penerbit: C Publishing (Bentang Pustaka), Yogyakarta

Cetakan: Maret 2005

Tebal: 177 halaman

Penulis masa kini telah sampai pada kedudukan yang selayaknya: hulu pertama dalam proses penerbitan. Dulu, negeri ini memang tidak menghargai para penulis dengan cukup memadai. Penulis senantiasa berada pada posisi yang lemah dan dilemahkan, mulai dari tidak adanya posisi tawar dalam persoalan royalti dan copy-right sampai ketiadaan penanganan paska-produksi buku, misalnya melalui peluncuran dan diskusi. Lebih menyedihkan lagi, ada suatu masa di mana penulis hanya menjadi objek penderita, honor dihitung sekadar sebagai ganti biaya kertas pengajuan naskah, dimanfaatkan karyanya, tidak dicantumkan nama penulisnya, tidak diberi royalti sama sekali, dalam manipulasi buku-buku proyek yang dalam anggaran keuangan diproduksi ratusan ribu eksemplar namun hanya dicetak belasan biji eksemplar saja, sesuai kebutuhan formalitas pertanggungjawaban proyeknya.

            Sebagaimana terbaca dalam berbagai pemberitaan, dan maklumat dan selebaran dari berbagai penerbit, penulis masa kini boleh berharap akan mendapatkan imbalan yang setimpal dengan perjuangan mereka menelorkan karya. Tidak hanya para penulis senior dan berpengalaman, bahkan para remaja pelajar sekolah menengah, juga anak-anak usia sekolah dasar, karya-karya mereka menjadi rebutan di antara para penerbit yang bersaing ketat menghasilkan produk yang akan digarap lebih lanjut dengan manajemen pemasaran yang canggih dan sistematis. Singkatnya, siapapun mereka yang memiliki kemampuan dan kemauan, silakan mereka-reka jalan lempang ini: menulis, buku terbit, roadshow peluncuran dan diskusi, kemudian negosiasi untuk film atau sinetron. Menyitir sebuah tulisan yang memaparkan kesuksesan “Teamlo”, sebuah kelompok musik humor asal Solo yang dibesarkan oleh televisi: penulis masa kini terancam kaya raya dan terkenal!

            Shakespeare in Lie ini bisa kita tempatkan pada atmosfir semacam itu. Dengan judul yang kebarat-baratan, penggunaan idiom Shakespeare—dengan sejoli Romeo-Juliet—yang sudah dikenal secara umum, pun dalam isi novel yang secara keseluruhan adalah ramuan dramatika dunia remaja masa kini, lengkap dengan sensasi, roman, dan tragedi-tragedi. Teenlit, atau dalam merek bikinan penerbit buku ini: “Teen Shake”, ini boleh jadi diramu dengan formulasi yang secara sadar diarahkan pada eforia dunia kepenulisan masa kini: sasaran pembaca remaja, terutama ditujukan pada pembaca putri-perempuan, memuat hal-ihwal pencarian jati diri dan cinta, berkisar pada diaroma sekolah, gank, dan keluarga, dan memungkinkan untuk diolah dalam bentuk sinema. Si penulis memiliki kesadaran penuh untuk memakai resep-resep dari karya-karya sukses terdahulu. Singkatnya, Shakespeare in Lie ini mengingatkan kita pada novel-novel Eiffel, I’m in Love, Nothing but Love, Fairish, Me vs Hight Heels, dan terutama pada film Ada Apa dengan Cinta?

            Shakespeare in Lie berkisar pada kisah seorang remaja yang beranjak menuju usia tujuh belas tahun, sweetseventeen. Si tokoh ini, panggilannya Ekky, aslinya Sri Rejeki. Nah, laiknya teenlit, bahkan dari sekadar nama ini cerita bergulir dan ber-roaller coaster kian-kemari. Ekky berharap nama aslinya berganti dengan nama baru, yang lebih modern, trendy, up to date, setidaknya tidak se-out of date nama yang disandangkan orang tuanya. Bagi Ekky, saat menginjak usia tujuh belas menjadi saat yang paling menentukan, karena dari sini segala urusan formal kenegaraan namanya akan diterakan untuk selama hidupnya, mulai dari KTP, SIM, paspor, dan tetek-bengek lainnya. Cerita pun diharu-biru dengan persahabatan nan seru dari tiga sekawan Ekky, Ncess, dan Joy; petualangan Ekky dalam nama barunya, Juliet, dalam keajaiban romansa cinta remaja dengan Gie, yang sok sentimentil dalam pengaruh kisah Romeo-Juliet karya Shakespeare; lalu perseteruan dan perkelahian Ekky melawan biang kerok sekolah bernama Lola; ada lagi, dramatisme kisah Ncess yang berkencan dengan Nuno, pemuda sok seniman, lengkap dengan moge (motor gede), tato, dan tindiknya; juga balutan tragedi perpecahan dalam keluarga Ncess yang orang tuanya dalam proses perceraian, pun dalam kisah nyata heroisme Sri Rejeki, seorang pembantu yang rela mati demi keselamatan majikannya, seorang ibu yang tengah mengandung yang kemudian melahirkan Ekky alias Sri Rejeki, sebuah nama yang mengabadikan kepahlawanannya.

            Jadi, apa yang membedakan buku ini dengan teenlit sejenis yang sudah menjamur di pasaran umum? Barangkali tidak ada, jika maksudnya adalah marka pembeda yang membuat buku ini bisa ditempatkan sebagai semacam karya pembaharu atau pencapaian standar-standar estetika tertentu sebagaimana kita biasa melakukan pendekatan pada karya-karya sastra (serius). Ini adalah novel teenlit, tentang remaja, ditujukan untuk pembaca remaja. Dalam sinisme yang pernah beredar, ini dari jenis sastra jerawat. Akan tetapi, justru karena mengolah hal-ihwal yang remeh-temeh, dan tertuang menjadi karya yang tidak remeh-temeh itulah yang membuat buku ini layak dihargai. Shakespeare in Lie tidak berhenti pada kisah yang melulu menjadi tuangan curhat dan fiksi-biografis  sebagaimana sebagian besar teenlit yang biasanya dapat dirunut pada kehidupan si penulisnya, atau kehidupan remaja di mana pun. Buku ini juga tidak berhenti pada abstraksi mimpi dan imajinasi ala remaja, yang jika dirunut-runut adalah hasil dari manipulasi industri dan media.

Dalam hal kepaduan tulisan dan penggunaan bahasa, Shakespeare in Lie juga tidak “brutal” sebagaimana teenlit pada umumnya, yang biasanya terbata-bata dibaca oleh kalangan pembaca di luar remaja. Ada terlihat usaha untuk menggunakan gaya bahasa yang mempertemukan gaya bahasa remaja dengan tata bahasa umum, yang tidak harus baku-kaku dan benar tetapi bahasa yang terbaca oleh berbagai kalangan dari berbagai usia dan era. Apakah hal-hal demikian ini menjadi kelebihan buku ini, yang selalu menggoda saya untuk teringat pada Ada Apa dengan Cinta? yang mengolah dunia remaja dan berhasil menghadirkan beraneka eforia itu—misalnya pada puisi dan Chairil Anwar, sedang dalam buku ini adalah drama dan Shakespeare, atau justru menjadi kekurangan dan persoalan karena genre teenlit yang telah dipilihnya, masing-masing pembaca bebas menimbang dan memaknainya.

Keluarga Aidit

July 3rd, 2005 by goen

Kisah Keluarga Aidit, Kisah Bangsa yang Sakit

Judul Buku: Menolak Menyerah: Menyingkap Tabir Keluarga Aidit

Penulis: Budi Kurniawan dan Yani Andriansyah

Penerbit: ERA Publisher, Yogyakarta

Cetakan: Pertama, Juni 2005

Tebal: 166 + xxiii halaman

Selama lebih dari 30 tahun di sepanjang kekuasaan Orde baru rezim Soeharto, PKI menjadi momok yang harus diwaspadai dan dihindari sejauh mungkin. Bukan hanya PKI sebagai partai politik, tetapi juga komunisme dan sosialisme sebagai ilmu, bahkan juga manusia-manusianya, mereka yang pernah menganut dan mempercayai paham ini, termasuk para keturunan mereka. Stigma hitam, biasa digemborkan sebagai “Bahaya Laten Komunis!”, ini dengan sangat berhasil ditanamkan oleh rezim Orde Baru kepada rakyat Indonesia. Dengan segala cara, pemerintahan Soeharto mengindoktrinasi dan mengintimidasi masyarakat untuk percaya bahwa Orde Baru dibangun sebagai hasil dari kemenangan bangsa ini atas usaha kaum komunis yang hendak menjadikan Indonesia menjadi negeri atheis, yang tidak mengakui Tuhan, yang tidak memiliki agama, yang keji dan kejam.

Masyarakat umum harus menerima satu kebenaran mutlak yang disebarkan melalui buku sejarah, film, aturan-aturan, mobilisasi massa, maupun stigma-stigma dan mitos-mitos yang kesemuanya makin membenamkan para korban, mereka yang pernah menjadi aktivis, anggota, simpatisan, bahkan siapa pun yang dianggap memiliki potensi mengganggu kelanggengan kekuasaan Soeharto. Baru di ujung keruntuhan Orde Baru tirani kebenaran itu mulai terkuak, dan makin terbuka ketika Soeharto turun tahta, yakni dengan terbitnya buku-buku yang memaparkan hal ihwal peristiwa 1965 dalam versi yang berbeda dari yang selama ini ditanamkan kepada masyarakat. Pun demikian, masih ada banyak kelompok dan orang-orang yang dengan keras dan membabi buta menyerang dan mengobarkan slogan bahaya laten komunis dan anti-PKI. Bisa jadi, ini adalah hasil dari kuatnya cengkeraman pengaruh Orde Baru atau bagian dari proyek besar pro status quo.

            Buku Menolak Menyerah: Menyingkap Tabir Keluarga Aidit ini menjadi satu buku yang bisa membawa kita lebih memahami apa dan bagaimana tragedi besar yang selama ini hanya kita ketahui dari versi sang pemenang: Soeharto. Ada banyak segi menarik dari buku ini. Pertama, tentu saja, buku ini menambah wacana baru berkaitan dengan “kebenaran versi lain” atas peristiwa 1965, yang dalam bahasa Orba dinamakan G-30-S/PKI yang secara mutlak menempatkan PKI sebagai pihak yang bersalah. Kedua, buku ini menampilkan sosok-sosok keluarga besar Aidit, yang salah seorang dari mereka bernama DN Aidit, pimpinan tertinggi PKI. Ketiga, buku ini bisa menjadi wahana bagi pengembangan rekonstruksi dan rekonsiliasi bangsa untuk keluar dari borok dan luka sejarah yang teramat parah. Keempat, buku ini menguak satu peristiwa politik dan sejarah besar bangsa dalam konteks kemanusiaan yang sangat kuat, yang dapat dijadikan sebagai pelajaran berharga bagi bangsa Indonesia agar tragedi kemanusiaan yang mengerikan itu tidak berlanjut apalagi terulang kembali.

Keluarga besar Aidit sesungguhnya berasal dari keluarga yang terhormat, jauh dari stigma-stigma yang dilekatkan kepada mereka. Abdullah Aidit, ayah dari DN Aidit dan adik-adiknya, adalah seorang pejuang penggerak revolusi bersenjata di Belitung pada masa revolusi 1945. Ia adalah pendiri perkumpulan keagamaan Nurul Islam, satu organisasi keagamaan yang muncul sebelum Masyumi terbentuk. Karena aktivitas nasionalismenya, Abdullah Aidit menjadi buronan Belanda. Ia kemudian aktif di kancah perjuangan di Jakarta dan Yogyakarta, dan kemudian menjadi anggota parlemen di era Soekarno, duduk di DPR-RIS dan DPRS-RI mewakili Belitung. Sebagaimana jamaknya keluarga Islam yang lainnya, keluarga besar Aidit juga memiliki tradisi mengaji, tarawih dan tadarus di kala ramadhan, juga khataman Al-Quran. DN Aidit bahkan beberapa kali khatam (tamat) membaca Al-Quran pada usia belasan tahun, yang biasa dirayakan dengan banyak sajian makanan: juadah, nasi kuning, panggang ayam, udang goreng, abon ikan, dan lain-lain. Kelak, kedekatan keluarga ini dengan kehidupan beragama terbawa dalam kebiasaan DN Aidit untuk mencari kontrakan atau rumah di dekat surau atau masjid.

Latar belakang keluarga yang demikian itu membentuk sosok keluarga Aidit sebagai orang-orang nasionalis yang memegang teguh prinsip. DN Aidit, nama aslinya adalah Ahmat Aidit—adik-adiknya memanggilnya Bang Amat—sebagai anak tertua, adalah panutan dan penuntun bagi adik-adiknya: Sobron Aidit, Asahan Aidit, Basri Aidit, dan Murad Aidit. Mereka berkembang menjadi warga negara terdidik, yang sangat disegani di lingkungannya. DN Aidit menjadi politikus handal hingga kemudian menjadi pimpinan puncak PKI; Sobron Aidit menjadi penulis dan sastrawan; Asahan Aidit adalah seorang seniman musik dan kemudian menjadi ahli bahasa dan sastra; Murad Aidit meminati bidang ekonomi dengan menyelesaikan kuliah sarjana di Universitas Lumumba; dan Basri Aidit sendiri sempat menjadi karyawan Dinas Pekerjaan Umum sambil menjadi mahasiswa dan mengikuti jejak DN Aidit di CC PKI.

Buku ini adalah hasil penelusuran data dan wawancara dengan Sobron Aidit, Asahan Aidit atau Asahan Alham, Murad Aidit, Ilham Aidit dan Iwan Aidit (putra DN Aidit, dan Rini Melani Aidit (putri Basri Aidit). Melakukan penelusuran data di seputar PKI bukanlah hal yang mudah, antara lain karena Orba telah membentuknya menjadi hantu menakutkan yang tidak seorang pun boleh menjamahnya. Demikian pula dengan wawancara, represi dan trauma psikis dari para korban yang sedemikian besar seringkali menjadikan mereka tidak berani membuka suara. Selain itu, para korban tragedi 1965 kerap kali curiga pada para wartawan yang sering mengelabui. Percakapan dan jawaban yang diberikan pada saat wawancara ketika ditulis dan terbit menjadi sangat berbeda bahkan kadang bertentangan dan mengada-ada.

Buku yang ditulis dari rangkaian panjang investigasi kewartawanan dua jurnalis muda ini memberi gambaran bagaimana sebuah perjuangan untuk mempertahankan hidup bagi korban politik represi Orba bukanlah sesuatu yang mudah. Hanya karena tekad hati dan keberuntungan yang menolong para korban tragedi besar itu. Buku ini menjadi ruang bagi suara mereka yang tak bisa kembali, menjadi orang buangan di negeri asing—terutama di Cina dan Soviet, yang sering sekali mengombang-ambingkan mereka karena pengaruh permainan dan kepentingan politik. Terakhir, mereka bahkan terpaksa harus keluar dari kedua negara tersebut, yang membuat mereka tercerai-berai ke berbagai negara di Eropa Barat, terutama Prancis dan Belanda. Buku ini adalah kisah dari mereka yang hidup dari satu penangkapan ke penangkapan lainnya, dari satu penjara ke penjara berikutnya, dari tanah pengasingan di Pulau Buru. Ini adalah cerita dari mereka yang tak pernah bisa hidup dengan tenang dan wajar dalam kehidupan bermasyarakat. Cerita mereka yang dituding sebagai penjahat tak terampuni, mereka yang haram untuk didekati bahkan untuk hidup.

Membaca buku ini membuat kita akan makin mengerti betapa hidup begitu berharga untuk dijalani dalam kemerdekaan dan betapa ada banyak ketidakadilan terjadi di depan kita semua. Sebagaimana yang diharapkan oleh para korban itu, buku ini diharapkan menjadi pupuk dan lahan untuk benih kejujuran, benih sikap baik tanpa curiga, benih hidup tanpa prasangka, benih keinginan menjadikan bangsa ini menjadi lebih baik dan memperbaiki semua kesalahan yang pernah terjadi di masa silam.

Ibu

April 1st, 2005 by goen

[Mata]

IBU KATA,
IBU BACA

 

PEMILU memang masih mencantumkan syarat-paksa kuota tiga puluh persen calon anggota legislatif perempuan. Akan tetapi, dunia perbukuan bisa berbangga diri: perempuan sudah lama memiliki tempat yang terhormat dan penting, tersurat dan tersirat. Tersurat dalam deretan panjang para penulis perempuan, tersirat dalam besaran jumlah pembacanya. Terlebih dalam dasawarsa terakhir ini, dengan bermunculannya penulis-penulis muda dengan karya-karya baru yang menciptakan kehebohan. Lebih khusus lagi di bidang kesusastraan, para penulis perempuan itu telah mencatatkan diri sebagai pemilik utama tonggak-tonggak pencapaian kualitatif ataupun kuantitatif. Boleh jadi, sebagaimana terungkap dalam berita-berita, masa depan novel dan sastra Indonesia ada di tangan perempuan. Ya, masa depan perbukuan Indonesia ada di tangan perempuan.

Sungguh, semua itu bukan sekadar bagian dari bombasme media massa. Semua itu bukan sesuatu yang diciptakan dan dikarbitkan, misalnya karena kepentingan pasar dan pemasaran. Semua itu dapat dirunut dari jejak dan sejarah dunia perbukuan kita, kemarin dan kini. Bukan hanya di era sekarang para penulis perempuan mampu menggerakkan dan menggairahkan dunia perbukuan kita, baik langsung maupun tidak langsung. Jika disimak dengan baik, para penulis perempuan telah mencatatkan dirinya sebagai bagian sah dari dunia perbukuan kita. Lebih dari itu, perempuan sesungguhnya memiliki peran tidak langsung yang luar biasa besar: sebagai pembaca dan sebagai penentu kemampuan dan rninat baca anak—jenjang usai kehidupan yang semua dari kita melewatinya.

Sebagai pembaca, kaum perempuan terus berkembang, baik secara kuantitatif maupun kualitatif. Kehidupan modern membuat kaum perempuan terbebas dari belenggu-belenggu, membuat mereka mengalami kemajuan di bidang pendidikan dan status sosial. Tingkat pendidikan yang lebih baik membuat kaum perempuan itu memiliki kebutuhan akan bacaan. Demikian seterusnya, semakin tinggi tingkat pendidikan semakin besar kebutuhan mereka, semakin tinggi tuntutan kualitas bacaan mereka.

Dalam peran yang lain, dalam kultur apa pun—patriarki atau matriarki, tradisional atau modern-pascamodern—perempuan adalah ibu bagi anak-anak mereka. Lebih dari sekadar persoalan biologis, perempuan sebagai ibu ini adalah peletak dasar visi-visi kehidupan anak manusia. Ini bukanlah generalisasi atau sekadar abstraksi kosong semata. Kita bisa menyimak banyak biografi tokoh yang memberi catatan penting yang demikian itu. Betapa para tokoh itu menempatkan ibu mereka, kaum perempuan, sebagai sosok yang membuat mereka mencapai kesuksesan, antara lain dengan kesan mendalam dari tahapan ketika mereka diajari membaca atau dimotivasi oleh bacaan yang dibacakan ibu mereka.

Demikianlah, zaman bergerak dengan cepat. Perempuan berada di garis terdepan, bersama kaum laki-laki. Dalam perspektif yang lain, keberadaan perempuan yang demikian telah menempatkan mereka dalam posisi penting dan menentukan. Akan sangat disayangkan jika perempuan masih menempatkan diri—mungkin juga, terbiasa atau nyaman berada di tempatnya yang lama—sebagai objek, bukan subjek. Cukup memprihatinkan jika perempuan tidak mampu mengambil momentum-momentum baik ini dan memegang pendulum baik ini. Apa pun, kita tidak perlu lagi mencemaskan masa depan kita yang kini berada di tangan kaum perempuan itu. Perempuan adalah ibu, ibu kita semua. [Goen]

Matabaca, Vol.2/No.8, April 2004

Puisi, Nonsens! Pemuda, Nonsens!

April 1st, 2005 by goen

[Mata]

PEMUDA, PUISI, DAN NONSENS

PEMUDA. Generasi penerus. Masa depan bangsa. Penerima tongkat estafet kepemimpinan. Pemimpin masa depan? Pemimpin bangsa? Siapa yang bisa? Ya, siapa yang bisa memimpin negeri ini di masa yang akan datang jika pendidikan tidak lagi mencerdaskan? Apa jadinya anak muda itu, mereka yang kini hidup dalam gebalau dan kacau di segala bidang kehidupan. Tak ada pendidikan, tak ada teladan, tak ada perdamaian, tak ada pemikiran, tak ada sesuatu dari negeri ini yang bisa memunculkan sosok-sosok anak muda masa depan bangsa yang gemilang.

Bisa jadi kecemasan ini berlebihan. Bisa jadi semua itu hanya pandangan pesimis dan negatif semata. Baiklah, orang baik pastilah akan tetap ada, selalu ada, di antara kebusukan suatu kaum. Sebab jika tidak, tentulah bangsa ini sudah luluh-lantak oleh laknat Tuhan—sejatinya tidak demikian, sebab manusia sendirilah yang menghancurkan diri mereka sendiri. Akan tetapi, pertanyaannya kemudian adalah, siapa yang sudi jadi pemimpin di negeri ini. Negeri yang telah membuat cetak biru ganjil ini: bahwa syarat-syarat menjadi pemimpin adalah kesediaan untuk berpikir licik, berlaku culas, dan bertindak jahat.

Ya, pemimpin adalah mereka yang terdidik dan berpengalaman. Agar berpendidikan, seseorang harus sekolah. Untuk bisa sekolah, ia harus mampu menyediakan uang sumbangan sebanyak-banyaknya—tak peduli dari mana uangnya. Sesudah jadi pelajar, ia harus mau membeli buku, yang ditunjuk departemen atau guru—jika tidak ditetapkan pun, tak ada buku pelajaran yang cukup bermutu. Yang jelas, buku itu tak banyak gunanya, sebab guru akan berdiri di depan kelas, mewartakan ilmu mereka yang sudah kadaluwarsa tapi jadi penentu nilai raport murid-muridnya.

Dan raport sendiri juga tidak banyak gunanya. Yang penting ia bisa lulus, mendapat ijazah, kemudian melanjutkan ke jenjang pendidikan berikutnya. Dan ia kembali menjalani alur mesin yang sama: cukup membayar, tak perlu belajar. Jika nilai ijazah dan tes buruk, bayar uang sumbangan yang besar agar bisa mendapatkan sekolah (dengan gedung) yang bagus, agar nanti di masa kelulusan bisa membayar lagi untuk mendapatkan ijazah yang berharga (stempelnya), dan kemudian bisa membayar untuk mendapatkan pekerjaan, atau kekuasaan, dengan gaji yang cukup (dan korupsi yang besar). Untuk apa korupsi besar? Pertama-tama untuk mengembalikan modal besar yang telah dikeluarkan untuk mendapatkan semua itu. Lalu untuk membayar sekian banyak ongkos tak resmi—yang resmi tak banyak, sebab jalur-jalur resmi telah ditutup rapat—dalam seluruh segi kehidupan sehari-hari. Dan, tentu saja, untuk membayar biaya pendidikan anak-anak mereka yang semakin lama semakin besar saja.

Astaga, bagaimana semua ini bisa terjadi? Tentu saja bisa, sebab semua ini sudah diatur dalam aturan-aturan, terutama aturan-aturan yang tidak resmi. Jadi kenapa tidak dibuat aturan yang jelas dan tegas? Aturan yang jelas dan tegas sudah ada. Kenapa tidak dibuat aturan baru, kenapa aturannya tidak diubah? Aturan-aturan sudah dibuat-buat dan diubah-ubah sesuai selera dan kepentingan yang membuat. Siapa yang membuat? Tentu saja para penguasa, pemimpin-pemimpin bangsa. Kenapa memilih pemimpin dan penguasa yang buruk? Kami tidak bisa memilih sendiri, ada wakil-wakil yang ditunjuk untuk itu. Kenapa tidak memilih wakil-wakil yang baik? Kami tidak bisa memilih wakil-wakil kami, kami hanya bisa memilih gambar dan nomor. Kami memilih partai. Kami harus jadi pengikut partai yang patuh, tunduk, setia, berani mati….

Nah, masalahnya sudah jelas: PARTAI. Jadi, kenapa tidak memilih partai yang baik? Karena tidak ada partai yang baik. Tidak ada partai yang baik? Ya, sebab partai adalah politik. Kalau begitu, pilih pemimpin yang bisa mengatasi semua persoalan itu, yang bisa mengatasi partai dan politik! Tidak bisa, sebab syarat utama menjadi pemimpin adalah menjadi bagian dari partai! Katanya, besok sudah bisa memilih langsung pemimpin yang diinginkan? Tidak juga, sebab yang ingin jadi pemimpin harus masuk partai dan mengikuti semua aturan main yang ada. Jelasnya, peraturan-peraturan adalah permainan politik. Kepemimpinan adalah permainan politik. Kekuasaan adalah permainan politik. Partai-partai bermain-main dengan politik. Dan politik itu kotor. Seperti yang orang-orang katakan, kalau politik kotor, puisi yang membersihkan. Tapi masyarakat negeri ini tidak mengenal puisi. Itulah masalahnya.
Tentu saja sangat berlebihan begitu saja menempatkan puisi sebagai ujung dari persoalan negeri ini. Jelas, puisi hanya simbolisasi dari nilai-nilai luhur umat manusia. Nilai-nilai luhur ada karena moral, norma, adat, dan hukum dijaga dengan sebenar-benarnya. Menjaga moral, norma, adat, dan hukum itu memerlukan tingkat pendidikan yang cukup, kebudayaan yang terbina, dan keberadaban yang dihargai. Ya, adagium politik dan puisi itu memang hanya berlaku di masyarakat dan bangsa yang berbudaya dan beradab.

Seperti juga hanya nonsens mengharapkan puisi akan membersihkan politik yang kotor, demikian juga dengan impian pemuda sebagai generasi masa depan bangsa yang gemilang. Kita harus mengakui betapa anak-anak negeri ini tidak cukup memiliki bahan untuk menjadikan mereka seberharga harapan dan impian kita. Anak-anak itu, juga para remaja dan pemuda-pemuda kita, hidup dan dihidupi oleh keseharian yang memilukan. Mereka berada dalam sistem pendidikan yang tidak mencerdaskan. Mereka bermain dan dihibur oleh mesin-mesin kapital yang sama sekali tidak mencerahkan. Mereka tidak menemukan teladan di antara pemimpin-pemimpin bangsa. Mereka berada di antara kita yang memilukan ini.

Tapi negeri ini adalah negeri besar. Zamrud khatulistiwa yang kaya raya. Negeri dengan kekayaan alam yang berlimpah-ruah, keanekaragaman suku, bangsa, dan budaya yang berharga. Akan selalu muncul anomali-anomali, local genius-local genius, orang-orang besar baru, sebagaimana dulu masa kolonialisme melahirkan tokoh-tokoh besar bangsa kita. Mereka itu akan menjadi pelaku dan penentu jalannya roda kehidupan yang lebih baik. Mereka akan menjadi pekerja, pengajar, seniman, pengusaha, ilmuwan, dan lain sebagainya. Mereka akan menjadi pelopor dan pemimpin. Dan karena kini menjadi pemimpin negara, menjadi pelaksana pemerintahan, menjadi penguasa, adalah berarti memasuki wilayah paling kelam dari kemanusiaan, marilah kita berharap di antara mereka itu masih ada yang bersedia menjadikan diri mereka sebagai martir. Sesudah itu, marilah kita bermimpi di antara martir itu ada yang selamat. Jika masa itu tiba, bolehlah kita berkhayal bahwa dia adalah sebenar-benar yang kita andaikan dan cita-citakan bersama. Semoga dia adalah pemuda itu, “pemuda adalah masa depan bangsa yang gemilang” itu. [Goen]

Matabaca, Vol.2/No.2, Oktober 2003

Damai Membaca

April 1st, 2005 by goen

[Mata]

MEMBACA DAMAI

MEMBACA adalah ibadah. Seperti sabda sebuah ayat: Bacalah dengan nama Tuhanmu yang telah menciptakan manusia (Al-Qur’an, surat Al-Alaq). Apakah setiap aktivitas membaca memiliki nilai ibadah ataukah hanya membaca dalam kerangka keberagamaan yang akan mendapatkan pahala? Juga, membaca yang bagaimana, yang berhadap-hadapan dengan buku dan teks ataukah membaca dalam arti yang seluas-luasnya, melihat dan menafsir dunia? Akan ada banyak pertanyaan yang muncul dalam diri kita, itulah kiranya mengapa umat manusia dikarunia akal—untuk mencari jawab dan memberi makna atas hidup dan kehidupannya.

Barangkali, peribahasa “tak kenal maka tak sayang” patut untuk dikemukakan di sini. Tak kenal ayat membuat hidup menjadi berat. Tak kenal membaca membuat kita sempit cakrawala. Tak kenal orang membuat kita tak peduli. Tak kenal negeri memunculkan perpecahan yang ngeri. Tak kenal keberagaman menumbuhkan peperangan. Tak kenal rakyat membuat pemimpin jadi tak arif. Tak kenal pemimpin membuat rakyat jadi pemimpi. Tak kenal maka tak sayang adalah ungkapan sederhana yang kaya makna.


Kita bisa mengenali sesuatu dengan membaca. Tak hanya itu, membaca bisa membuat kita mengetahui, mengerti, memahami, dan memberi makna pada sesuatu itu. Dari situ, hidup yang mudah, indah, dan terarah akan dapat diciptakan. Boleh jadi kita kembali sampai pada pertanyaan, membaca apa dan membaca yang bagaimanakah kiranya?


Surat Al-Alaq yang telah disinggung di awal tulisan pada bagian lain menyatakan: Bacalah dan Tuhanmu amat pemurah. Dari sini, layaklah jika kita tidak usah lagi mempertanyakan dan memperdebatkan apa dan bagaimana dari membaca. Kiranya Tuhan itu penuh rahmat dan kasih, kita jualah yang suka ruwet dan bertikai.


November ini adalah bulan Ramadhan bulan puasa bagi kita yang beragama Islam. Bulan penuh rahmat dan anugerah. Bulan suci yang mestilah diisi dengan ibadah-ibadah. Selepas hari-hari yang penuh dengan konflik dan kepedihan, kita berharap akan tercipta kesejukan dan kedamaian di bulan ini. Apakah harapan ini hanya tinggal harapan, sungguh kita tidak tahu. Dunia global masih juga diisi dengan tragedi-tragedi, negeri kita sendiri seperti tidak mau kalah dengan sekian persoalan yang tiada henti. Akan tetapi, Tuhan amat pemurah dan penuh kasih. Kepada-Nya kita berserah diri.


Menyimak fenomena dari tahun-tahun yang lalu, membaca kitab dan buku keagamaan—juga buku umum lainnya—menjadi aktivitas yang banyak dilakukan oleh masyarakat Islam, terutama di kalangan kaum muda dan mahasiswa, dalam mengisi waktu-waktu di bulan Ramadhan ini. Aktivitas membaca ini berlanjut pula pada kegiatan-kegiatan diskusi dan bedah buku yang juga dilaksanakan di masjid-masjid. Aktivitas ini membuat masjid-masjid menjadi lebih semarak. Umat Islam disegarkan oleh pengetahuan dan cakrawala baru. Buku-buku bertambah luas jangkauannya. Membaca bukan lagi suatu kegiatan yang asing dan ganjil di masyarakat kita.


Membaca memang aktivitas yang cukup tepat untuk mengisi hari-hari di bulan Ramadhan ini. Secara fisik, membaca tidak banyak menghabiskan energi. Membaca juga membuat kita menjauh dari kegiatan-kegiatan yang mendekati kemudharatan dan keburukan. Tentu, dalam hal ini, bacaan yang kita pilih juga agak lebih terseleksi, terutama yang berkaitan dengan ilmu-ilmu agama.


Demikianlah, aktivitas membaca menjadi jawab atas harapan kita akan kesejukan dan kedamaian dunia. Barangkali memang tidak bisa dinafikan bahwa membaca juga membawa konsekuensi ideologis yang sangat besar. Bahwa tulisan memiliki implikasi yang luar biasa bagi pemikiran. Bahwa tulisan memuat beban-beban. Dan kemudian, ada usaha untuk menyensor, melarang, membakar buku. Akan tetapi kita kini lebih butuh kedamaian. Dan, sejelek-jelek buku—sejelek-jelek bacaan— serugi-ruginya membaca, tetaplah ada gunanya. Maka, mengulang apa yang telah ditulis di muka: Bacalah dengan nama Tuhanmu… Bacalah dan Tuhanmu amat pemurah. [Goen]

Matabaca, Vol.2/No.3, November 2003

Anak-Anak Membaca

April 1st, 2005 by goen

[Mata]

MEMBACA DAMAI

MEMBACA adalah ibadah. Seperti sabda sebuah ayat: Bacalah dengan nama Tuhanmu yang telah menciptakan manusia (Al-Qur’an, surat Al-Alaq). Apakah setiap aktivitas membaca memiliki nilai ibadah ataukah hanya membaca dalam kerangka keberagamaan yang akan mendapatkan pahala? Juga, membaca yang bagaimana, yang berhadap-hadapan dengan buku dan teks ataukah membaca dalam arti yang seluas-luasnya, melihat dan menafsir dunia? Akan ada banyak pertanyaan yang muncul dalam diri kita, itulah kiranya mengapa umat manusia dikarunia akal—untuk mencari jawab dan memberi makna atas hidup dan kehidupannya.

Barangkali, peribahasa “tak kenal maka tak sayang” patut untuk dikemukakan di sini. Tak kenal ayat membuat hidup menjadi berat. Tak kenal membaca membuat kita sempit cakrawala. Tak kenal orang membuat kita tak peduli. Tak kenal negeri memunculkan perpecahan yang ngeri. Tak kenal keberagaman menumbuhkan peperangan. Tak kenal rakyat membuat pemimpin jadi tak arif. Tak kenal pemimpin membuat rakyat jadi pemimpi. Tak kenal maka tak sayang adalah ungkapan sederhana yang kaya makna.


Kita bisa mengenali sesuatu dengan membaca. Tak hanya itu, membaca bisa membuat kita mengetahui, mengerti, memahami, dan memberi makna pada sesuatu itu. Dari situ, hidup yang mudah, indah, dan terarah akan dapat diciptakan. Boleh jadi kita kembali sampai pada pertanyaan, membaca apa dan membaca yang bagaimanakah kiranya?


Surat Al-Alaq yang telah disinggung di awal tulisan pada bagian lain menyatakan: Bacalah dan Tuhanmu amat pemurah. Dari sini, layaklah jika kita tidak usah lagi mempertanyakan dan memperdebatkan apa dan bagaimana dari membaca. Kiranya Tuhan itu penuh rahmat dan kasih, kita jualah yang suka ruwet dan bertikai.


November ini adalah bulan Ramadhan bulan puasa bagi kita yang beragama Islam. Bulan penuh rahmat dan anugerah. Bulan suci yang mestilah diisi dengan ibadah-ibadah. Selepas hari-hari yang penuh dengan konflik dan kepedihan, kita berharap akan tercipta kesejukan dan kedamaian di bulan ini. Apakah harapan ini hanya tinggal harapan, sungguh kita tidak tahu. Dunia global masih juga diisi dengan tragedi-tragedi, negeri kita sendiri seperti tidak mau kalah dengan sekian persoalan yang tiada henti. Akan tetapi, Tuhan amat pemurah dan penuh kasih. Kepada-Nya kita berserah diri.


Menyimak fenomena dari tahun-tahun yang lalu, membaca kitab dan buku keagamaan—juga buku umum lainnya—menjadi aktivitas yang banyak dilakukan oleh masyarakat Islam, terutama di kalangan kaum muda dan mahasiswa, dalam mengisi waktu-waktu di bulan Ramadhan ini. Aktivitas membaca ini berlanjut pula pada kegiatan-kegiatan diskusi dan bedah buku yang juga dilaksanakan di masjid-masjid. Aktivitas ini membuat masjid-masjid menjadi lebih semarak. Umat Islam disegarkan oleh pengetahuan dan cakrawala baru. Buku-buku bertambah luas jangkauannya. Membaca bukan lagi suatu kegiatan yang asing dan ganjil di masyarakat kita.


Membaca memang aktivitas yang cukup tepat untuk mengisi hari-hari di bulan Ramadhan ini. Secara fisik, membaca tidak banyak menghabiskan energi. Membaca juga membuat kita menjauh dari kegiatan-kegiatan yang mendekati kemudharatan dan keburukan. Tentu, dalam hal ini, bacaan yang kita pilih juga agak lebih terseleksi, terutama yang berkaitan dengan ilmu-ilmu agama.


Demikianlah, aktivitas membaca menjadi jawab atas harapan kita akan kesejukan dan kedamaian dunia. Barangkali memang tidak bisa dinafikan bahwa membaca juga membawa konsekuensi ideologis yang sangat besar. Bahwa tulisan memiliki implikasi yang luar biasa bagi pemikiran. Bahwa tulisan memuat beban-beban. Dan kemudian, ada usaha untuk menyensor, melarang, membakar buku. Akan tetapi kita kini lebih butuh kedamaian. Dan, sejelek-jelek buku—sejelek-jelek bacaan— serugi-ruginya membaca, tetaplah ada gunanya. Maka, mengulang apa yang telah ditulis di muka: Bacalah dengan nama Tuhanmu… Bacalah dan Tuhanmu amat pemurah. [Goen]

Matabaca, Vol.2/No.3, November 2003

Bentang Budaya & Buldan

April 1st, 2005 by goen

BENTANG BUDAYA: BULDANUL KHURI DAN BIOGRAFI LAMPU MERKURI

SUATU HARI sebuah andong berhenti di depan sebuah toko buku. Andong itu membawa serombongan bocah dan seorang muda yang kemudian turun dan berebut masuk ke toko buku. Dengan penuh kegembiraan, mereka melihat-lihat, membuka, dan membaca sekilas buku-buku dan majalah yang tertata rapi di deretan rak-rak buku. Yang membuat mereka lebih bersemangat lagi, mereka boleh memilih buku yang mereka sukai untuk dibawa pulang. Hari itu kawan-kakak-senior, seorang muda yang ada di antara mereka, akan membayari buku-buku yang mereka pilih dan sukai.


Kejadian itu terjadi di akhir tahun 1970-an. Toko buku itu adalah Toko Buku Gunung Agung, terletak di pojok perempatan Tugu di kota Yogyakarta. Anak-anak itu berasal dari sebuah kampung di daerah Kota Gede, sepuluh kilometer arah tenggara Yogya. Siapakah anak muda yang memiliki kepedulian besar terhadap minat baca anak-anak itu? Ia adalah Darwis Khudori, ketika itu mahasiswa arsitektur UGM, penulis, dan pekerja sosial yang cukup dikenal di lingkungan kreatif Yogyakarta. Hari itu ia menerima uang hadiah penghargaan suatu lomba penulisan. Dan ia menyediakan separonya untuk membelikan buku bagi anak-anak yang biasa bermain dan belajar di rumahnya.


Darwis Khudori mulanya adalah sosok yang aneh dan asing bagi anak-anak kampung itu. Mereka bisa melihatnya dari jendela kamar yang selalu terbuka, yang memperlihatkan dirinya yang selalu khusuk dengan buku dan mesin ketik. Bocah-bocah itu biasa mendengar cerita bahwa anak muda itu adalah orang pandai, mahasiswa dan penulis yang layak dikagumi. Dalam istilah sekarang, anak muda itu adalah seorang intelektual. Satu-dua di antara mereka kemudian mencoba belajar dari anak muda itu, melihat-lihat apa yang dilakukannya. Ia kemudian memberi kesempatan kepada anak-anak itu untuk membaca buku-buku koleksinya, sebagian besarnya buku-buku sastra ‘serius’. Begitu melihat antusiasme anak-anak itu, ia kemudian menyediakan juga buku dan majalah anak-anak untuk mereka. Acara ke toko buku ini menjadi sesuatu yang istimewa, yang membuat mereka semakin mencintai buku dan bacaan.


Seorang di antara bocah-bocah itu adalah Buldanul Khuri, ketika itu adalah pelajar sekolah menengah pertama. Buldan kini dikenal sebagai pendiri dan sekaligus pengelola penerbitan Bentang Budaya Yogyakarta. Peristiwa di atas diceritakannya kembali untuk mengungkap bagaimana ia mengelola penerbitannya dengan satu paradigma dasar: kecintaan terhadap buku. Sebagaimana diungkapkan sendiri oleh Buldan, apa dan bagaimana Bentang adalah manifestasi dari obsesi pribadinya. Sosok seperti Darwis Khudori, yang memperkenalkannya pada buku dan bacaan dan bahkan menyediakan taman bacaan untuk anak-anak di lingkungannya, disadari atau tidak telah membentuk sebagian dari pribadi seperti dirinya. Buldan masih bisa mengingat bagaimana ia membaca novel-novel Iwan Simatupang, Putu Wijaya, Danarto, dan Mochtar Lubis—yang meskipun ketika itu membingungkannya— membuat dirinya merasa dekat dan mencintai karya-karya sastra dan buku.


Di Bawah Lampu Merkuri
Kegemaran terhadap bacaan dan kesenangan terhadap karya-karya sastra tersebut ternyata menumbuhkan minat dan keinginan yang terus berkembang. Beranjak remaja, mereka yang ada di seputaran buku-buku Darwis Khudori ini sempat menerbitkan antologi puisi kecil, dengan judul yang cukup necis untuk konteks masa itu, yakni Di Bawah Lampu Merkuri. Judul buku ini diambil dari satu puisi salah seorang di antara mereka, yang sedikit banyak menjadi respons atas dikenalnya lampu penerang jalan jenis baru yang dipasang di kampung mereka. Ini bisa jadi merupakan petunjuk betapa lingkungan mempunyai pengaruh besar bagi perkembangan jiwa seorang anak.


Buldan sendiri kemudian menemukan ruang ekspresi dan jati dirinya, yakni desainer dan penerbit perbukuan. Keluarga Buldan memiliki usaha percetakan kecil-kecilan yang dikelola oleh kakak-kakaknya. Salah satu kesempatan yang diperoleh Buldan ketika itu adalah ikut menangani buku tahunan dari satu perkumpulan remaja, yakni sebagai pengisi ilustrasi. Dari sini, ia kemudian menemukan pilihan masa depannya dengan melanjutkan pendidikan ke Sekolah Tinggi Seni Rupa Indonesia (STSRI), yang kemudian berganti nama menjadi Institut Seni Indonesia Yogyakarta, jurusan Desain Komunikasi Visual.


Setelah menyelesaikan studi, Buldan kemudian mendirikan satu biro desain grafis kecil-kecilan, bernama Aula Graphic Design. Lingkungan kerja yang banyak berhubungan dengan dunia cetak-mencetak ini menyegarkan obsesi Buldan pada dunia perbukuan dan penerbitan. Mula-mula Buldan menjalin interaksi dan kontak dengan beberapa penerbit yang sudah ada ketika itu, antara lain pada aspek penataan artistik buku. Para penerbit buku pada waktu itu, terutama di Yogyakarta, tidak cukup memiliki perhatian atas aspek artistik dari produk-produk mereka, baik pada desain cover, setting, lay-out, maupun tampilan buku secara keseluruhan. Dari sini, Buldan beranjak lebih jauh lagi dengan mencoba menjajaki kemungkinan menerbitkan kumpulan tulisan dari beberapa penulis, antara lain Emha Ainun Nadjib, yang karya-karyanya cukup layak untuk disebarluaskan ke tengah masyarakat. Satu-dua naskah sempat ditanganinya, mulai dari pengumpulan bahan, pengetikan, editing, lay-out, dan perancangan tampilannya, yang kemudian diserahkannya kepada penerbit yang ada ketika itu.


Sejalan dengan itu, pada 1992, Buldan mendirikan PT Bentang Intervisi Utama bersama tiga sahabatnya. Perseroan ini dikerangkakan bergerak di bidang desain grafik, percetakan, dan penerbitan. Dengan sinergi tiga bidang kerja yang saling berkaitan ini, ada harapan bahwa apa yang sudah dikerjakan oleh Buldan dan kawan-kawannya bisa berkembang lebih maju dan terarah. Karena satu dan lain hal, dalam bahasa Buldan dunia bisnis yang ruwet, perseroan ini mengalami perpecahan. Buldan kemudian berdiri sendiri dalam menangani bidang penerbitan, dengan tetap membawa nama Bentang yang dicetuskannya.


Membentangkan Perbukuan Yogyakarta
Berdiri pada 1994, Bentang dapat dicatat sebagai pelopor berdirinya penerbit-penerbit alternatif di Yogyakarta. Dalam satu kesempatan, Taufik Rahzen, seorang pemerhati perbukuan, menyatakan betapa Buldanul Khuri dengan penerbitannya ini menjadi katup pembuka bagi banyak orang akan kemungkinan pendirian suatu lembaga penerbitan. Apa yang dikemukakan oleh Taufik Rahzen ini bisa lebih dipahami dengan melihat sekilas dunia penerbitan pada era sebelum kemunculan Bentang. Sampai awal era 90-an, dunia penerbitan memiliki wilayah yang ‘sakral’, berayun di antara modal-kapital dan intelektualitas-komunitas. Gramedia, Gunung Agung, Pustaka Jaya, Kanisius, Grafiti, Sinar Harapan, dan sekian penerbit mapan lainnya adalah nama-nama yang mau tidak mau bisa membuat keder banyak orang. Gramedia dan Gunung Agung dengan kebesaran modal dan sejarahnya; Pustaka Jaya dengan kekuatan intelektualitas para sastrawan terkemuka; Kanisius dengan ruang lingkup khususnya; demikian pula dengan penerbit-penerbit lain yang memiliki latar belakang keunggulan masing-masing.


Bentang bagaimanapun melulu bersandar pada diri Buldanul Khuri dan obsesi pribadinya di bidang perbukuan. Ia—sebagai pribadi maupun keluarga—tidak memiliki modal-kapital cukup, tidak berada dalam lingkungan kelompok intelektual terkemuka, sebagai desainer visual juga belum banyak dikenal. Kenyataannya, Bentang tidak termasuk dalam fenomena yang terjadi pada gerakan dan lembaga alternatif dan independen pada umumnya, yang biasanya sekadar jadi letupan kecil untuk kemudian padam, yang berkobar-kobar pada awalnya untuk kemudian hilang entah ke mana. Pertanyaannya kemudian adalah, apa formulasi yang membuat Bentang bisa bertahan dan berkembang hingga sekarang ini? Dalam ungkapan Buldan, Bentang bisa bertahan hanya karena keberaniannya untuk malu dan menanggung segala risiko. Ini dikemukakannya dengan melihat kenyataan betapa sampai 1998, berarti dalam jangka waktu empat tahun, Bentang senantiasa berada dalam belitan hutang yang terus bertumpuk. Bisa dikatakan, Buldan adalah jaminan satu-satunya atas setiap tagihan Bentang, baik dari percetakan, distributor kertas, penulis, bank perkreditan, dan banyak pihak lain. Tak ada pilihan lain jika kemudian gaji karyawan yang sekian gelintir, yang sebagian adalah kawan keseharian Buldan, juga termasuk yang terbengkalai. Bisa dipahami jika kemudian satu per satu dari mereka keluar dari lembaga yang tengah berada pada masa perintisan ini. Dengan demikian, bisa dimaklumi pula jika dalam perkembangan lebih lanjut Buldan benar-benar menjadi penentu tunggal segala aktivitas Bentang.


Angin segar baru dapat dirasakan oleh Bentang pada kisaran 1999, seiring dengan terjadinya booming dunia perbukuan Indonesia. Pada masa ini terjadi fenomena yang sampai sekarang belum dibahas kritis kaitannya, yakni krisis moneter yang berlanjut dengan keruntuhan rezim Soeharto dan pertumbuhan luar biasa penerbit-penerbit kecil yang diikuti dengan penyerapan pasar yang meningkat tajam atas produk-produk perbukuan. Bentang dan penerbitan buku di Yogyakarta cukup layak dicatat dalam fenomena ini. Yogyakarta, sebuah kota menengah di Indonesia, kota pelajar dan wisata, berkembang drastik menjadi kota penerbit buku. Jika semula penerbit buku tidak lebih dari hitungan jari tangan, setelah tahun 1999 berkembang sampai sekitar delapan puluh penerbit, bahkan ada yang mencatat lebih dari seratus penerbit. Dalam konteks Bentang, booming perbukuan ini memberikan dukungan finansial dengan larisnya buku-buku Kahlil Gibran dan buku-buku Kiri, dua tema perbukuan yang juga menjadi tambang uang bagi banyak penerbit kecil di Yogyakarta.


Personalitas dan Elan Vital Kreativitas
Bentang Budaya adalah suatu lembaga penerbitan yang memilih tema-tema utama di seputar seni-sastra-budaya-filsafat. Apa yang diharapkan dari pilihan tema yang tidak cukup menjanjikan keuntungan material—setidaknya dalam asumsi umum di bidang perbukuan yang diamini banyak pihak—ini? Buldan punya jawaban yang menarik. Dengan cukup berapi-api, ia menandaskan bahwa pilihan aktivitasnya di dunia perbukuan tidak pernah diniatkan untuk tujuan bisnis. Apa yang diterbitkannya melalui Bentang adalah berdasarkan pada minat dan impian-impian personalnya, demikian juga dengan keseluruhan segi dari keberadaan lembaga penerbitan ini. Dari semenjak pemilihan naskah, keredaksian, artistik, percetakan, sampai paskaproduksi, kesemuanya dikonsep dan diimplementasikannya sendiri. Dalam pemilihan naskah, misalnya, kenangan dan kesenangannya membaca karya-karya sastra, budaya, dan filsafat membuat dirinya memiliki semacam standar subjektif atas laik-tidaknya suatu naskah dipilih untuk diterbitkan. Pegangannya adalah apakah ia suka atau tidak, merasa cocok atau tidak, terhadap satu naskah. Miinat dan kesukaan ini bisa dikarenakan orisinalitasnya, nilai pentingnya, inovasi dan kontekstualitasnya, atau bahkan keklasikannya. Baginya, selera personal semacam ini bukanlah sesuatu yang ganjil dan terasing; ia meyakini bahwa akan ada orang lain, banyak orang lain yang juga memiliki selera yang sama. Setidaknya, ketika suatu naskah bisa terbit dalam bentuk buku, ia bisa memiliki kepuasan dan kebanggaan bagi dirinya sebagai pribadi.


Di bidang keredaksian, ia melihat betapa dunia akademik dan teoretis, bangku perkuliahan, tidak cukup signifikan untuk dijadikan pegangan atas kemampuan seseorang. Ia lebih percaya keahlian di bidang ini hanya bisa diperoleh dalam praktek di lapangan; dengan kata lain, koreksi, editing, penyuntingan, dan hal-hal yang berkaitan dengan keredaksian ini berkaitan dengan ketekunan dan keseriusan dari mereka yang menggelutinya. Tanpa ketekunan dan keseriusan, kecintaan terhadap profesi, seorang korektor atau editor hanya akan menjadi tukang, sesuatu yang mesti dihindari di dunia perbukuan yang kental dengan nilai intelektualitas dan estetika.


Menelaah Bentang mau tidak mau harus menyebutkan satu pencapaiannya yang paling teruji dan menjadi ikon dari penerbitan ini, yakni desain cover. Aspek artistik buku ini bisa jadi merupakan salah satu aspek terpenting yang membuat Bentang bisa bertahan dan berkembang sampai sekarang. Buldanul Khuri, bersama Si Ong Harry Wahyu, adalah nama yang telah berkibar tinggi sebagai perancang sampul mumpuni. Sebagaimana telah dibahas pada Matabaca Vol.1/No.2/September 2002, dua orang ini, terutama melalui buku-buku terbitan Bentang, telah membuka cakrawala yang menyegarkan dengan menempatkan desain artistik sebagai bagian penting yang membuat buku menarik minat pembaca dan menciptakan citra khusus terhadap penerbit. Meski secara jujur Buldan menyatakan bahwa apa yang telah dilakukannya dalam pengolahan desain cover ini diilhami oleh kekagumannya atas sampul buku-buku Pustaka Jaya di era 1970-an, dalam konteks kekinian Bentang dapat dicatat memunculkan trend desain cover khas Yogyakarta. Ciri khas buku dari penerbit-penerbit Yogya, dan bahkan merambah ke penerbit-penerbit di luar Yogya, adalah desain sampul yang tak ubahnya karya rupa, dari objek visual, tipografi, huruf, tata-ruang, maupun tampilan buku sebagai keseluruhan.


Pada akhirnya, Bentang Budaya dan Buldanul Khuri adalah dua nama yang harus disebut dalam satu tarikan nafas. Pilihan-pilihan yang diambil oleh Buldan dalam mengelola Bentang bisa jadi adalah sesuatu yang jauh dari ilmu-ilmu manajemen masa kini. Akan tetapi, patut pula dihargai apa yang sudah ditempuh oleh Buldan dengan segala resiko yang ditanggungnya. Dengan penuh kesadaran, Buldan mengatakan betapa dirinya sama sekali tidak berpretensi mencapai sesuatu yang melampaui batas-batas kemampuannya sebagai pribadi. Ia bahkan menandaskan bahwa jika ternyata dirinya sudah tidak peka, tidak kreatif dan mandeg, berhenti dalam proses belajar yang terus-menerus di dunia perbukuan ini, ia telah siap menerima resiko bahwa Bentang akan pudar digerus zaman. Buldan percaya bahwa setiap orang memiliki eranya masing-masing, dengan kreativitas dan gagasan baru mereka, yang lebih segar dan berharga bagi masyarakat. [Goen]

HANTU-HANTU PERBUKUAN INDONESIA

LEBIH DARI sepuluh tahun menggeluti dunia perbukuan, Buldanul Khuri memiliki pengalaman yang layak untuk kita kaji. Berikut ini adalah petikan perbincangan tentang Bentang, penerbit-penerbit Yogya, dan dunia perbukuan pada umumnya.

Dalam kurun waktu empat-lima tahun ini, ada banyak sekali penerbit yang bermunculan di Yogyakarta. Bagaimana Bentang menyikapi hal ini?


Ini adalah sebuah fenomena yang menarik. Krisis moneter yang melanda Indonesia pada 1998-1999 diikuti dengan berkembangnya pasar perbukuan. Apakah ini ada hubungannya dengan keruntuhan Soeharto, juga kaitannya dengan menjamurnya penerbit-penerbit kecil di Yogyakarta dan kota-kota lain, perlu ditelaah lebih serius lagi. Bentang sendiri melihat hal ini sebagai fenomena yang menggembirakan dalam perkembangan perbukuan Indonesia.

Bagaimana dengan kritik dan bahkan kecaman yang dialamatkan kepada penerbit-penerbit Yogyakarta, antara lain tentang kualitas terjemahan dan copy-right?


Pertama, saya tidak setuju dengan adanya gebyah-uyah, penggeneralisiran, semacam ini. Bahwa Yogya kemudian jadi sorotan utama, ini ada kaitannya dengan jumlah penerbit Yogyakarta yang demikian banyak. Gampangnya, di Yogyakarta ada sekian puluh bahkan seratusan lebih penerbit sedang kota-kota lain cuma memiliki tidak lebih dari belasan penerbit aktif. Jelas bahwa akan lebih gampang mencari dan melihat hal-hal buruk dari sekian banyak penerbit yang ada di Yogya.


Yang lebih penting lagi, perlu dipahami juga apa dan bagaimana penerbit-penerbit kecil di Yogya itu. Kita-kita ini kan sedang belajar. Motivasinya bermula dari keseharian sebagai mahasiswa, aktivis diskusi dan pergerakan, atau pekerja budaya yang banyak bertemu dan mengenal sekian nama penulis dan buku-buku penting; buku-buku sastra, filsafat, buku kiri, agama. Nah, dari sini muncul pemikiran bahwa buku-buku tersebut layak disebarluaskan juga ke masyarakat luas. Yang terjadi kemudian adalah, ada di antara kami yang bisa menerjemahkan dan ada yang memiliki kenekatan untuk menerbitkan. Kalau ternyata buku tersebut direspon baik oleh masyarakat, pendapatannya dijadikan tambahan modal untuk terbitan buku berikutnya, demikian seterusnya. Syukur-syukur bisa mengangsur hutang-hutang. Begitulah….


Akan tetapi, bagaimana dengan kritik dan kecaman yang kemudian muncul tadi? Juga adanya pendapat bahwa buku dengan kualitas yang di bawah standar bisa menjadi sebentuk pembodohan?


Saya percaya bahwa apapun dari buku, tetap ada gunanya. Orang juga mengatakan betapa sejelek-jelek buku, tetap ada manfaatnya. Buku adalah tetap buku, ia tetap bernilai dan dapat diambil manfaatnya. Jadi titik penting yang dijadikan pijakan dari penerbit Yogya ini adalah pada aspek pentingnya tersedia buku di tengah masyarakat. Ya, bisa jadi para penerbit Yogya sendiri memang masih perlu banyak belajar. Dan kami-kami ini memang terus belajar. Masyarakat pun sedang belajar berhadapan dengan buku. Apa yang terjadi di dunia penerbitan kita ini adalah cerminan dari situasi masyarakatnya.


Yang lebih penting adalah bagaimana kita bersikap secara dewasa dan saling membangun, bukan dengan memunculkan serangan dan kritik yang menjatuhkan. Saya sendiri sangat kaget dengan adanya rumor yang mengatakan bahwa sebegitu antipatinya terhadap buku-buku Yogya, beberapa oknum yang menyatakan dirinya intelektual, di Jakarta sana, mencoba menurunkan, merusak display, buku-buku Yogya di rak-rak buku. Ini kan tidak ada bedanya dengan pembredelan dan pembakaran buku, bahkan lebih tidak mutu lagi karena dilakukan dengan sembunyi-sembunyi.


Yang diperlukan sekarang ini adalah kerja. Apa mereka yang merasa lebih baik itu juga bersedia untuk bekerja? Silakan membuat terjemahan yang baik, biar kami-kami ini yang menerbitkan. Jika perlu, mereka juga bisa mendirikan penerbit sendiri lah. Nah, masyarakat bisa punya pilihan yang makin beragam.


Soal copy-right?


Oh, iya. Maksudnya copy-right buku-buku luar negeri itu, kan?! Saya sendiri dalam hal ini sesungguhnya masih merasa ambigu, bingung. Di satu sisi tidak bersetuju dengan hukum internasional yang penuh muatan kepentingan, terutama kepentingan negara maju. Di sisi lain, ini juga jadi salah satu tahapan keberadaban yang harus dijalani.


Tapi apa yang dikemukakan oleh seorang teman penerbit dalam sebuah wawancara cukup layak untuk dijadikan jawab. Ia mengatakan begini, apa mempermasalahkan copy-right lebih penting dari memikirkan bagaimana membuat rakyat punya hobby membaca?


Bagaimana dengan pemerintah? Peran apa yang diharapkan dengan situasi yang demikian ini?


Pemerintah tidak bisa diharapkan apa-apa dalam hal-hal semacam ini. Yang perlu dilakukan oleh pemerintah adalah memberikan kebebasan bagi para penerbit. Dengan kekuasaan yang ada di tangannya, pemerintah lebih baik memastikan bahwa kebebasan ini bisa benar-benar dinikmati oleh masyarakat. Ini yang lebih diperlukan, menjaga agar kebebasan ini tidak dihalangi oleh mereka-mereka yang merasa terancam oleh kebebasan itu. Jadi, jangan sampai terjadi, ada pihak-pihak yang tidak bersetuju dengan wacana yang dimunculkan dalam suatu buku kemudian menyerang secara fisik dan kekerasan, misalnya.


Bagaimana ke depannya? Apa pandangan Anda terhadap Bentang di antara sekian banyak penerbit lain dan berbagai persoalan itu?


Satu bidang yang menurut saya bisa menjadi bom waktu bagi penerbit-penerbit kecil seperti Bentang dan banyak penerbit lain adalah pola distribusi yang tidak sehat. Bagi kami-kami yang lebih banyak dihidupi oleh kenekatan dan modal minimal, distribusi langsung dan pembukaan cabang atau keagenan di tiap-tiap wilayah adalah sesuatu yang masih jadi impian. Distributor dan agen pemasaran menjadi harapan yang paling mungkin. Akan tetapi, distributor dan agen pemasaran buku adalah benang kusut yang sulit dicari simpulnya. Ada masa ketika mereka menjadi mitra kerja yang saling menguntungkan. Akan tetapi lebih banyak persoalan yang kemudian muncul dari berbagai pola kerja sama yang pernah dicoba dan diterapkan dengan satu distributor dan distributor lainnya.


Di satu sisi asumsi rendahnya minat baca dan daya beli masyarakat masih selalu dijadikan hantu yang menakutkan, yang dijadikan senjata oleh para distributor untuk mempermainkan penerbit; di sisi lain ada kenyataan betapa buku sama sekali belum tersebar secara maksimal menjangkau pembacanya. Fenomena lain adalah betapa ada banyak judul buku yang cukup besar terserap oleh pasar, terlepas apakah karena ditulis oleh artis, promosi besar-besaran, kontroversialitasnya, atau trend tematik yang sedang hangat. Kenyataannya, penerbit-penerbit kecil senantiasa dalam posisi yang dilemahkan. Yang banyak terjadi adalah pembayaran yang selalu mundur atau bahkan tidak terbayar, penipuan dengan cek atau giro kosong, penolakan dan retur buku sebelum waktunya, rabat yang sangat besar, dan berbagai mekanisme distribusi yang tidak memberi ruang bagi daya hidup penerbit-penerbit kecil.
Saat ini, kami, para penerbit kecil Yogya ini, tengah menggodok mekanisme distribusi yang paling memungkinkan dan formulasi yang bisa jadi pegangan bersama dalam berhadapan dengan distributor. [Goen]

Matabaca, Vol.1/No.6, Januari 2003